Arisunando Alias Kobang, TKI Asal Sendoyan Sukses Jadi Pengusaha di Kuching.

Editor: Redaksi author photo
Arisunando Alias Kobang, mantan TKI asal Sendoyan Sukses Jadi Pengusaha di Kuching, Serawak, Malaysia.

KUCHING,Sambasupdate.com-Tidak selamanya akhir kisah hidup seorang pekerja migran Indonesia (PMI) yang mengalami pengalaman tidak menyenangkan saat bekerja di negeri orang juga akan berujung pada kepahitan.

Cerita sedih dari para pejuang devisa di luar negeri kerap terjadi. Namun sesungguhnya, tidak sedikit pula PMI yang sukses mengangkat derajat kehidupan mereka menjadi jauh lebih baik dan menginspirasi banyak orang.

Arisunando yang biasa dipanggil Kobang, PMI asal Sendoyan, Kec.Sejangkung Kabupaten Sambas. Ia kini sukses menjadi pengusaha restauran di Kuching, Malaysia. Walaupun ia sempat mendapati dirinya berada di titik paling rendah dalam hidupnya, tapi dengan berbekal keyakinan dan semangat pantang menyerah, dia perlahan berhasil bangkit dari keterpurukannya.

Kobang anak ke 3 dari 4 bersaudara dan memiliki saudara kembar yang juga di berada Miri, Malaysia. Terlahir dari keluarga petani dari seorang Ayah bernama Durani Jarni mantan Kepala Desa Sendoyan, Kecamatan Sejangkung.

Pria yang dikenal dermawan dan senang membantu sesama anak rantau dan tidak lupa dengan tanah kelahirannya, berbagi kisah hidupnya bersama Sambasupdate.com melalui pesan whatsapp, Kamis (23/4/2020).

Belasan tahun di Miri, kini Kobang menetap dikediaman mewahnya di daerah Bau, Kuching.

Saat ini ia sudah memiliki 3 buah restauran yang dikelolanya dan memiliki 20-an karyawan. Ia memiliki restaurant dikawasan Miri Merdeka Mall dan Imperial Mall Food Court dan yang baru beroperasi dan berlokasi di daerah Bau, Kuching khusus menyediakan Fast Food dan Seafood.

Selain itu, ia juga berdagang emas, barang-barang antik, serta gadget berbagai merek ternama, baik dijual secara online dan offline.

Berbekal kursus keahlian cheff dan sempat bekerja di Singapore dengan upah Rp. 75 juta/per bulan, ia bertekad membuka usaha sendiri dan Allah mudahkan itu semua.
Dulu makan gaji, sekarang memberikan orang gaji tentu menjadi suatu kebanggaan bagi dirinya. Saat ini dia berpangkat master cheff dalam dunia perkulineran, profesi yang jauh berbeda dengan dirinya di masa lalu.

Kobang, anak muda usia 34 tahun telah bertekad kuat ingin berubah dan taubat dari dirinya yang sebelumnya. Roda hidup memang harus berputar, kadang diatas kadang dibawah. Tidak ada yang tidak mungkin jika Tuhan berkehedak.

Berikut perjalanan cerita Arisunando alias Kobang memulai kisah suksesnya!

Putus Sekolah dan Bekerja Sebagai TKI di Malaysia

Kisah kelamnya berawal ketika pada tahun 2005 la memutuskan untuk berhenti sekolah. Waktu itu dibangku SMA kelas 1. Keputusan yang sangat berat baginya dan alasan ekonomi keluarga membuat ia lebih memilih untuk bekerja dibanding bertahan di bangku sekolah dan tawaran bekerja pun datang menghampiri.

"Waktu itu ada tawaran kerja kebun di Malaysia daerah Sampadi, Lundu, Serawak dan tanpa berpikir panjang saya bersama 3 orang rekan dibawa ejen menuju perbatasan Serikin. Tentu dengan perasaan cemas dan letih saya dan rekan-rekan mulai melewati arus deras sungai dan menyusuri hutan, dan kami pun tiba dini hari di sempadan Malaysia, berjalan kaki dan dibawa kedalam hutan. 

Dan, Alhamdulillah saya datang dalam keadaan selamat menempuh perjalanan jauh sebagai TKI ilegal atau non-prosedural. Bekerja di kebun menanam tembikai atau semangka dengan upah RM 150 per bulan. Dengan upah segitu sangat berarti bagi saya karena hasil keringat sendiri dan halal. Kurang lebih 1 tahun lamanya saya bekerja dikebun, "jelas Kobang.

Menantang Kerasnya Hidup di Negeri Orang

Usai berhenti bekerja di kebun, ia mulai merasakan kerasnya betarung hidup di negeri orang. Bak pepatah "hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri". Saya sempat hidup ugal-ugalan. Dari satu tempat ke tempat lain. Pernah hidup menjadi orang jalanan menjaga tempat wilayah orang punya duit dengan upah RM 10.000 per bulan. Dan saya bersyukur masih Allah beri umur panjang sampai saat ini, "ujarnya mengenang.

Pengalaman sebagai anak rantau telah banyak saya lalui, hanya air mata yang menjadi pelipur lara, kadang tidak makan dan bertahan dengan makan seadanya. Sebagai anak dari keluarga sederhana urusan perut sudah biasa saya jalani. Tentu sebagai perantau ada rasa rindu orang tua, sahabat dan kampung halaman. 

Dulu dijaman saya masih sangat terbatas alat komunikasi, beda jauh dengan kondisi sekarang. Sekarang bekerja menjadi TKI lebih mudah, semua sarana serba ada. 

Pesan Sebagai Seorang Perantau

Pesan saya bagi sanak saudara yang ingin merantau dan ingin menjadi pekerja migran yang ada di Malaysia khususnya wilayah Sarawak, bekerjalah dengan cara resmi ikuti aturan baik yang ada di Indonesia maupun negara Malaysia. Jangan buat susah diri sendiri, "ujar Kobang mengingatkan.

Untuk sukses tidak ada jalan pintas, mesti harus kerja keras, jujur ikhlas. Ingatlah kamu bekerja di negeri orang adalah sebagai duta keluarga, duta negara, jadikanlah itu sebagai pegangan. 

Sebagai orang Melayu Sambas kita punya budaya dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung. "Jika majikan memperlakukanmu layaknya anak, maka kamu harus perlakukan dia layaknya orang tua, hormatilah dia dan jaga amanah yang diemban, itu kunci suksesmu, "jelasnya.

Dalam kesempatan ini, saya juga menghimbau kepada sanak-saudara untuk mematuhi kebijakan negara Malaysia dalam memerangi wabah Covid-19 terkait maklumat Perintah Kawalan Pergerakan (PKP) tahap 3. Mari kita perbanyak doa dan istighfar dan saling membantu dikala susah dan selalu ikuti arahan pihak Kerajaan, "tutupnya. (Man)
Share:
Komentar

Berita Terkini